Malacca: Baba Nyonya from Malaysia

Rasanya saya tergolong salah satu orang yang beruntung selesai wisuda besoknya dapet surprise tiket PP ke Malaysia. Tanpa buang waktu, pagi itu langsung packing dan siap menjelajah KL dan sekitarnya, alhasil nekatlah saya mencoba mengunjungi Malaka yang jaraknya tidak begitu jauh dari Kuala Lumpur.

Untuk mengeksplorasi Malaka rasanya cukup dengan sehari saja, tetapi karena saya masih punya banyak waktu dan kebetulan di Malaysia sedang libur jadi saya putuskan untuk menginap di sana selama 2 hari. Kali ini saya punya rekomendasi tempat menginap yang oke di Malaka, guest house ini dikelola oleh teman saya yang baru sekitar 2 tahun terakhir ini direnovasi. Tempatnya bersih, nyaman, dan sangat murah, kalau anda tertarik menikmati pusat kota Malaka yang jaraknya tidak terlalu jauh dari Jonker Street mungkin menginap disini (www.tanghouse.com.my) bisa menjadi pilihan.

Tang guest house, Malacca

Untuk menuju ke Malaka dari KL caranya naik bis dari Terminal Bersepadu Selatan, lihat di Peta Network Transit di bawah ini, yang tulisannya Tasik Selatan. Ada 3 line yang lewat terminal ini: Star Line (Sentul Timur-Sri Petaling), KTM Komuter Line (Rawang-Seremban), atau ERL (kereta langsung dari KLIA-KL Sentral). Kalau saya lebih prefer naik Star Line karena relatif lebih cepat daripada Komuter.

rail network in Malaysia

Di TBS pasti orang Indonesia bakalan tercengang ini terminal bis apa terminal bandara. Bangunannya baru sih (barunya tapi 2010) jadi masih bersih, adem, schedule boardnya digital, hampir mirip sama Southern Terminal di Bangkok tapi yang ini luar dalam lebih OK. Memang sistem transportasi di Malaysia lagi gencar-gencarnya dibangun, pas di TBS nanti kita bakal nunggu di platform masing2 dan ada tempat duduk buat nunggu, sistem check ticketingnya pun pake mesin, jadi nanti buat masuk bis kita bakalan antri.

Disana tinggal cari loket yang menjual tiket ke Malaka, banyak pilihan variasi harga dari 9-12 RM dan bis ke Malaka ada tiap setengah jam sekali sampai malam jam 7 (cmiiw). Begitu sampai di Melaka Sentral (nama terminal di Malaka) cari platform untuk keberangkatan domestik, kita tinggal menunggu bus Panorama yang warna merah di sana, anehnya kita gak ditarik ongkos. Pas pulang baru deh kena ongkos 1.5 RM. Kalau tujuannya di tengah-tengah kota Malaka turun di clock towernya Stadhuys, lama perjalanan dari Melaka Sentral ke Melakanya sendiri kurang lebih 30 menit.

Melaka pada dasarnya kota kecil, tak heran jarak satu tempat wisata ke tempat wisata lainnya berdekatan. Begitu berhenti di clock tower berarti kita sudah sampai di komplek Stadhuys (bangunan yang berwarna merah), disana ada Melaka Tree-St.Paul Church-Christ Church-Port Santiago-Replica of Flor De Lamar (entrance fee 3 RM)-Menara Taming Sari. Tempat-tempat tadi adalah tempat wisata yang letaknya berdekatan satu sama lain jadi bisa walking tour atau pakai becak hias yang jadi ikon khasnya Melaka.

Terminal Bersepadu Selatan, Malaysia

Selepas matahari terbenam, kita bisa coba naik jetti atau Malaka River Cruise (semacam kapal feri) yang mengelilingi Malaka dari ujung hang jebat sampai mendekati mahkota. Selain itu, ada hiburan lain yang menarik yang sempat saya temukan disana, yaitu Eye on Malaka dan Rumah Perkampungan yang bentuknya unik di sekitar Eye on Malaka. Jalan-jalan di malam hari bakalan lebih menarik kalau kita mengunjungi Jonker Street, yang notabene pecinannya di malaka, seperti biasa isinya pasar kaget yang jual macem-macem, yang paling unik disini selain makanan khasnya chicken rice ball dan minuman es cendolnya, ada jajanan dari kentang tapi panjang banget, karena gak tau namanya kita kasih nama kentang pagoda. Ini dia nih wujudnya

maap ya pake model, fokus ke kentang pagodanya aja, jangan modelnya. hahaha

Malaka sendiri terkenal dengan budaya cina yang terpengaruh budaya melayu, makanya ada Museum Baba Nyonya. Konon ceritanya, ini  merupakan asal usul keturunan di Malaka secara mayoritas. Pasangan tersebut yang laki-laki berasal dari melayu, sedangkan yang perempuan dari keturunan etnis Cina, sehingga si suami dipanggil Baba dan si istri dipanggil Nyonya. Beberapa nama jalan di Malaka juga terinspirasi dari tokoh pahlawan setempat, seperti hang jebat (kalau di Indonesia kisahnya mirip si Pitung, jawaranya Betawi). Walaupun mayoritas di Malaka keturunan beretnis Cina, melayu dan india masih ada disini. Bagi yang muslim mungkin bisa mengunjungi masjid Kampung Kling yang tak jauh dari Jonker Street, masjid ini merupakan salah satu masjid tertua di Malaysia. Malaka tentunya cocok dijadikan destinasi wisata untuk yang suka dengan hal-hal berbau heritage

Eye on Melaka

Sekian dulu cerita tentang Malaka, postingan kali ini didedikasikan khusus buat sponsorship graduation trip saya nan jauh di negeri seberang, sebut saja namanya Ucup. hahaha, many many thaaaanks dear for this gift

One thought on “Malacca: Baba Nyonya from Malaysia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s